Tuesday, August 16, 2011

Siapa yang paling berhak atas seorang suami dan siapa yang paling berhak atas seorang istri ?

~ seorang laki-laki telah datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak aku hormati dengan baik?’, Beliau bersabda, ‘ibumu’, laki-laki itu bertanya lagi: ‘kemudian siapa?’, Beliau menjawab, ‘ibumu’, laki-laki itu kembali bertanya: ‘kemudian siapa?’, Beliau menjawab, ‘ibumu’, laki-laki itu bertanya kembali: ‘kemudian siapa?’, Beliau menjawab, ‘ayahmu’ ~

Siapa yang tidak mengenal hadits in, kisah tentang kedudukan seorang perempuan yang telah mengandung, melahirkan, menyusui, menyapih serta bertanggung jawab atas segala urusan dan pendidikan anak-anaknya lebih banyak.
ya, perempuan itu menjelma menjadi sosok seorang Ibu, yang menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya.Bersama suaminya, yang menjelma menjadi ayah, mereka menjadi partner membesarkan putra putri mereka, bahu membahu sesuai proporsinya.

Tugas sang suami sekaligus ayah demikian berat, dia bertanggungjawab atas istri dan anak-anaknya. Tak hanya menafkahi tapi dia juga memikul tanggungjawab atas sikap langkah istri dan anak-anaknya. Dia lah yang akan mengantar mereka menuju pintu surga atau neraka !!
Apa kesalahan yang dilakukan sang istri, terbeban dosanya kepada sang suami. Apa yang dilakukan putra-putrinya, pun terbeban dosanya kepada sang ayah. Dia yang ditanyai Allah karena kepemimpinannya terhadap istri dan anak-anaknya. Tugas ini terus terbeban hingga putra putri mereka MENIKAH.

Bagi anak laki-laki saat dia menikah, berarti dia mengambil alih seluruh tanggungjawab orangtua si perempuan yang akan dinikahinya.
Bagi anak perempuan, saat dia menikah, berarti dia menyerahkan dirinya sebagai orang yang siap dipimpin oleh lelaki yang akan menjadi suaminya. Pada keduanya, ada pesan tersirat, sang laki-laki harus memantaskan diri, memiliki kecakapan untuk menjadi seorang yang siap memimpin dan bertanggungjawab di hadapan Khaliknya. Sementara sang perempuan, harus “berhitung” kepada siapa dia akan menyerahkan dirinya untuk dipimpin.

Setelah menikah, anak lelaki adalah tetap anak dari kedua orangtuanya. Orangtua si anak lelaki berhak atas anaknya. Bagi anak lelaki yang telah menikah, saat orangtuanya membutuhkan bantuan maka yang pertama kali harus dibantu adalah ibunya, setelah itu bapaknya, dan setelah itu baru anak dan istrinya.
Sementara bagi anak perempuan, setelah menikah, ia sepenuhnya menjadi hak suaminya. Orangtua si anak perempuan tidak lagi berhak atas anaknya. Karenanya bagi anak perempuan saat orangtuanya membutuhkan bantuannya, dia tak wajib menaati orangtuanya. Dia punya tanggungjawab menjaga harta dan kehormatan suaminya. Dia harus terlebih dahulu meminta ijin suaminya. jika ini dilakukan, tak hanya sang istri yang mendapat pahala kebaikan dari suaminya, tapi juga orangtua sang istri mendapat kebaikan karena tidak mengambil sesuatu yang bukan lagi haknya (yakni anak perempuannya). Istri yang baik adalah istri yang memuliakan suaminya, di atas yang lainnya, dan suami yang baik adalah suami yang memuliakan ibu kandungnya, di atas yang lainnya.

“apabila seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya niscaya dia akan masuk surga DARI PINTU MANA SAJA yang dia inginkan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Ketaatan kepada orangtua bagi seorang istri, tidak boleh berada di atas ketaatannya kepada suami. Kunci surga bagi seorang perempuan menikah, tak lagi ada pada orangtuanya, tapi sudah berpindah kepada suaminya.

Rasulullah saw dalam hadis yang diriwayatkan Saidatina Aisyah: “ aku pernah bertanya kepada Baginda, “siapakah orang yang paling berhak atas seorang istri?” baginda menjawab: “orang yang paling berhak kepada istri ialah suaminya.” kemudian aku bertanya lagi, “dan siapakah orang yang paling berhak atas seorang suami?” baginda menjawab: “orang yang paling berhak atas seorang suami ialah ibu kandungnya.” (Hadis riwayat Bazar dan al-Hakim)

Syurga seorang anak lelaki adalah di bawah tapak kaki ibu, tetapi syurga bagi seorang istri ialah di bawah tapak kaki suaminya.

Bahkan Rasulullah saw pernah bersabda “sekiranya aku dibenarkan untuk memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya.” (hadis riwayat Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Imam Ahmad dan al-Hakim meriwayatkan dari al-Husain bin Mihshan bahwa bibinya datang kepada Nabi saw untuk suatu keperluan. setelah dia selesai dari keperluannya, Nabi saw bertanya kepada bibi al-Husain, “apakah kamu bersuami?” dia menjawab, “ya.” Rasulullah bertanya, “bagaimana dirimu terhadapnya?” dia menjawab, “saya tidak melalaikannya kecuali jika saya tidak mampu.” maka Rasulullah saw bersabda, “lihatlah dirimu daripadanya, karena dia adalah surga dan nerakamu.”

Maka, jangan tanya orang tentang baik buruknya seorang muslimah, tapi tanyakan kepada suami mereka masing-masing, bagaimana sikapnya terhadap suami mereka. Allahu ‘alam.


1 comment:

  1. Beberapa syariat dalam Islam (mungkin termasuk yang ini pada suatu masa bagi wanita) tidak dapat diterima kecuali bagi wanita yang ikhlas dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Semoga kita diberikan istri-istri yang sholihah, sehingga memotivasi suaminya untuk semakin berbakti pada orang tua dan semakin taqwa pada Allah. Aamiin.

    Nice share, Bro :)

    ReplyDelete